SNANEPAPUA.COM – Data kependudukan terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai lanskap demografi di Mesir. Sekitar 37 juta warga Mesir, atau setara dengan sepertiga dari total populasi negara tersebut, lahir setelah peristiwa Arab Spring tahun 2011. Fenomena ini menandakan kemunculan generasi baru yang sama sekali tidak memiliki memori kolektif atau pengalaman langsung terkait aksi protes besar-besaran yang berhasil menggulingkan kekuasaan Presiden Hosni Mubarak yang telah bertahan selama tiga dekade.
Pergeseran Demografi dan Hilangnya Memori Kolektif
Mesir saat ini tengah mengalami transisi generasi yang sangat cepat. Dengan total populasi yang kini melampaui angka 100 juta jiwa, pertumbuhan penduduk yang pesat telah menciptakan struktur demografi yang didominasi oleh kaum muda. Bagi 37 juta orang ini, peristiwa di Lapangan Tahrir pada Januari 2011 hanyalah narasi sejarah yang mereka dengar dari orang tua atau baca di buku sekolah. Mereka tidak merasakan ketegangan, harapan, maupun gejolak emosional yang menyelimuti Mesir selama periode transisi yang penuh gejolak tersebut.
Hilangnya memori kolektif ini memiliki dampak sosiologis yang mendalam. Generasi ini tumbuh dalam lingkungan politik dan sosial yang sudah sangat berbeda dari era pra-2011. Fokus mereka bukan lagi pada tuntutan reformasi politik yang radikal seperti para pendahulu mereka, melainkan pada isu-isu yang lebih pragmatis dan mendesak dalam kehidupan sehari-hari seperti akses teknologi, pendidikan, dan gaya hidup global.
Tantangan Ekonomi dan Masa Depan Pemuda
Tantangan terbesar yang dihadapi oleh generasi pasca-Arab Spring ini adalah realitas ekonomi yang menantang. Mesir terus berjuang melawan inflasi yang tinggi, devaluasi mata uang, dan keterbatasan lapangan kerja bagi lulusan baru. Dengan jumlah penduduk muda yang begitu besar, pemerintah Mesir berada di bawah tekanan konstan untuk menciptakan jutaan lapangan kerja setiap tahunnya guna mencegah meningkatnya angka pengangguran dan ketimpangan sosial.
Selain ekonomi, sektor infrastruktur dan layanan publik juga menjadi sorotan utama. Bagaimana negara mampu memberikan layanan kesehatan dan pendidikan yang memadai bagi sepertiga populasi yang masih dalam usia pertumbuhan akan menentukan stabilitas nasional dalam jangka panjang. Investasi pada sumber daya manusia menjadi kunci utama agar bonus demografi ini tidak berubah menjadi beban demografi bagi masa depan Mesir.
Analisis/Perspektif
Secara analitis, keberadaan 37 juta warga tanpa memori 2011 menciptakan sebuah “tabula rasa” atau lembaran bersih dalam lanskap sosial-politik Mesir. Pemerintah memiliki peluang untuk membangun narasi identitas nasional baru yang lebih fokus pada stabilitas dan pembangunan ekonomi tanpa terbebani oleh bayang-bayang pergolakan masa lalu. Namun, risiko besar tetap mengintai; generasi yang pragmatis ini akan menilai legitimasi pemerintah bukan dari retorika politik, melainkan dari kemampuan negara dalam menyediakan kesejahteraan material dan peluang hidup yang layak.
Jika ekspektasi ekonomi generasi muda ini tidak terpenuhi, ada kemungkinan mereka akan mencari cara-cara baru untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka. Meskipun mereka tidak mengingat 2011, insting untuk bertahan hidup dan keinginan akan masa depan yang lebih baik tetap menjadi penggerak utama perubahan sosial. Oleh karena itu, kebijakan yang inklusif dan berorientasi pada pemuda adalah satu-satunya jalan untuk memastikan bahwa energi besar dari 37 juta jiwa ini tersalurkan ke arah pembangunan nasional yang positif.
Cek Sumber Asli: Al Jazeera
Editor: SnanePapua
