Januari 26, 2026

Strategi ‘Reset’ Donald Trump: Mengapa Kebijakan Luar Negeri AS Berubah Total Setelah 80 Tahun?

SNANEPAPUA.COM – Mantan pejabat pemerintahan Donald Trump, Christian Whiton, memberikan pembelaan kuat terkait langkah kontroversial Trump dalam merombak total arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) yang telah mapan selama lebih dari 80 tahun. Dalam sebuah diskusi mendalam, Whiton menegaskan bahwa tatanan dunia yang dibentuk pasca-Perang Dunia II sudah tidak lagi relevan dengan kepentingan nasional Amerika saat ini, sehingga diperlukan sebuah tombol ‘reset’ untuk menyeimbangkan kembali posisi Washington di panggung global.

Mengakhiri Era Konsensus Pasca-Perang Dunia II

Selama delapan dekade terakhir, kebijakan luar negeri Amerika Serikat didasarkan pada prinsip multilateralisme, aliansi militer yang kuat seperti NATO, dan peran AS sebagai ‘polisi dunia’. Namun, di bawah visi ‘America First’, Donald Trump secara konsisten mempertanyakan efektivitas institusi-institusi tersebut. Christian Whiton berpendapat bahwa beban yang ditanggung Amerika untuk menjaga keamanan global sudah terlalu berat dan tidak proporsional dibandingkan keuntungan ekonomi yang didapat.

Perubahan ini bukan sekadar retorika kampanye, melainkan pergeseran paradigma dari diplomasi berbasis nilai menjadi diplomasi transaksional. Trump memandang hubungan internasional melalui lensa untung-rugi, di mana sekutu diharapkan berkontribusi lebih besar dalam pembiayaan pertahanan, sementara perjanjian perdagangan lama ditinjau ulang demi melindungi industri domestik Amerika.

Visi ‘Reset’ dan Realitas Geopolitik Baru

Langkah Trump untuk melakukan ‘reset’ hubungan internasional dipicu oleh munculnya kekuatan-kekuatan baru dan tantangan internal di dalam negeri AS. Whiton menyoroti bahwa banyak warga Amerika merasa ditinggalkan oleh kebijakan globalisasi yang didorong oleh elite Washington selama berpuluh-puluh tahun. Dengan menekan tombol ‘reset’, Trump ingin memastikan bahwa setiap komitmen luar negeri harus memiliki dampak langsung dan positif bagi kelas pekerja di Amerika.

Hal ini mencakup peninjauan kembali keterlibatan AS dalam konflik-konflik berkepanjangan di Timur Tengah serta penyesuaian strategi dalam menghadapi kebangkitan ekonomi dan militer China. Trump lebih memilih kesepakatan bilateral yang dianggapnya lebih mudah dikontrol daripada perjanjian multilateral yang seringkali mengikat tangan kedaulatan Amerika.

Analisis/Perspektif: Dampak Jangka Panjang bagi Stabilitas Dunia

Perombakan kebijakan yang dilakukan Trump membawa implikasi yang sangat luas. Dari sudut pandang analis, strategi ‘reset’ ini menciptakan ketidakpastian bagi sekutu tradisional di Eropa dan Asia. Jika AS benar-benar menarik diri dari peran kepemimpinan globalnya, akan tercipta kekosongan kekuasaan (power vacuum) yang kemungkinan besar akan diisi oleh rival geopolitik seperti China dan Rusia. Namun, di sisi lain, langkah ini memaksa negara-negara lain untuk menjadi lebih mandiri dalam hal pertahanan dan keamanan mereka sendiri.

Strategi ini juga menunjukkan bahwa era unipolaritas Amerika telah berakhir. Dunia kini bergerak menuju tatanan multipolar di mana kepentingan nasional yang sempit seringkali mengalahkan kerja sama kolektif. Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, perubahan haluan AS ini menuntut kelincahan diplomatik untuk tetap menjaga keseimbangan di tengah persaingan kekuatan besar yang semakin transaksional dan tidak terduga.

Cek Sumber Asli: Al Jazeera

Editor: SnanePapua