SNANEPAPUA.COM – Perdana Menteri Greenland, Nielsen, memberikan pernyataan mengejutkan sekaligus tegas terkait posisi geopolitik negaranya di kancah internasional. Dalam sebuah pengumuman terbaru, Greenland secara terbuka menyatakan komitmennya untuk tetap berada di bawah naungan Kerajaan Denmark dan menolak gagasan untuk bergabung dengan Amerika Serikat.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dan minat strategis negara-negara besar terhadap wilayah Arktik. Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap Greenland, baik dari sisi lokasi militer yang strategis maupun potensi kekayaan sumber daya alam yang melimpah di wilayah tersebut.
“Jika kami harus memilih antara Amerika Serikat dan Denmark di sini dan saat ini, kami memilih Denmark,” tegas PM Nielsen. Ucapan ini dipandang sebagai upaya untuk meredam spekulasi yang berkembang mengenai kemungkinan pergeseran aliansi Greenland yang selama ini menjadi bagian otonom dari Denmark.
Hubungan antara Greenland dan Denmark sendiri telah berlangsung selama berabad-abad. Meskipun terdapat gerakan kemerdekaan yang cukup kuat di dalam negeri, pemerintah Greenland saat ini menilai bahwa kemitraan dengan Kopenhagen masih memberikan stabilitas ekonomi dan keamanan yang jauh lebih pasti dibandingkan dengan tawaran aliansi baru dari Washington.
Keputusan ini diprediksi akan mengubah peta persaingan pengaruh di wilayah Kutub Utara. Dengan memilih untuk tetap setia pada Denmark, Greenland menunjukkan bahwa kedaulatan dan hubungan historis tetap menjadi prioritas utama di atas kepentingan pragmatis jangka pendek yang ditawarkan oleh kekuatan global lainnya.
Editor: SnanePapua
