SNANEPAPUA.COM – Perhelatan bergengsi Adelaide Writers’ Week di Australia secara resmi dibatalkan setelah terjadi gelombang pengunduran diri massal dari para pembicara dan jajaran dewan direksi. Keputusan drastis ini diambil menyusul kontroversi besar yang dipicu oleh pencoretan seorang penulis asal Palestina dari daftar undangan, yang kemudian memicu reaksi keras dari komunitas sastra internasional.
Pembatalan ini menandai krisis terdalam yang pernah dialami oleh salah satu festival sastra tertua dan paling dihormati di Australia tersebut. Ketegangan mulai memuncak ketika pihak manajemen festival memutuskan untuk membatalkan keikutsertaan penulis Palestina, sebuah langkah yang dinilai banyak pihak sebagai tindakan penyensoran politik dan mencederai nilai-nilai demokrasi dalam seni.
Menyusul pengumuman pencoretan tersebut, puluhan penulis dan pembicara lainnya yang semula dijadwalkan hadir langsung menyatakan solidaritas mereka dengan mengundurkan diri. Tidak hanya para peserta, sejumlah anggota dewan direksi festival juga memilih untuk meletakkan jabatan mereka sebagai bentuk protes terhadap kebijakan manajemen yang dianggap tidak konsisten dalam menjunjung tinggi kebebasan berekspresi.
Selain pembatalan seluruh rangkaian acara, pimpinan tertinggi festival tersebut juga dilaporkan telah mengundurkan diri di tengah tekanan publik yang semakin masif. Upaya untuk meredam kemarahan komunitas sastra dan publik Australia tampaknya gagal total, sehingga meninggalkan kekosongan kepemimpinan yang membuat pelaksanaan festival tahun ini tidak mungkin lagi untuk diteruskan.
Insiden ini telah memicu debat nasional di Australia mengenai batasan politik dalam dunia seni dan sastra. Banyak pengamat berpendapat bahwa pembatalan ini merupakan kerugian besar bagi ruang dialog intelektual, sekaligus menjadi peringatan keras bagi institusi budaya agar lebih berhati-hati dalam menjaga integritas dan inklusivitas editorial mereka di masa depan.
Editor: SnanePapua
