SNANEPAPUA.COM – Dunia literasi internasional tengah diguncang prahara besar setelah sebuah festival sastra ternama di Australia mengalami keruntuhan mendadak. Hal ini dipicu oleh keputusan panitia yang mencoret seorang penulis asal Palestina dari daftar undangan, yang kemudian memicu reaksi keras dan boikot dari komunitas penulis global secara luas.
Sebanyak kurang lebih 180 penulis terkemuka secara resmi menyatakan pengunduran diri mereka dari acara tersebut sebagai bentuk protes keras. Langkah kolektif ini diambil sebagai bentuk solidaritas terhadap penulis yang didepak, sekaligus mengecam tindakan penyensoran yang dianggap mencederai nilai-nilai kebebasan berekspresi dalam dunia kreatif dan akademik.
Di antara deretan nama besar yang memutuskan untuk menarik diri, terdapat sosok mantan Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. Kehadiran Ardern yang awalnya menjadi daya tarik utama festival tersebut kini sirna, menambah daftar panjang tokoh berpengaruh yang menolak berpartisipasi dalam acara yang kini tengah berada di ujung tanduk akibat polemik tersebut.
Krisis ini mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat di sektor kebudayaan terkait isu-isu geopolitik yang sensitif. Keputusan penyelenggara festival untuk membatalkan partisipasi penulis Palestina tersebut dianggap oleh banyak pihak sebagai langkah yang bias dan diskriminatif, sehingga memicu gelombang eksodus massal dari para pengisi acara lainnya yang menjunjung tinggi inklusivitas.
Hingga saat ini, pihak penyelenggara festival dilaporkan tengah berjuang keras untuk menangani dampak buruk dari pengunduran diri massal ini. Namun, dengan hilangnya dukungan dari ratusan penulis dan tokoh publik dunia, reputasi serta keberlangsungan festival ini berada dalam ancaman serius dan diprediksi akan sulit untuk pulih dalam waktu dekat.
Editor: SnanePapua
