SNANEPAPUA.COM – Sebuah skandal perekrutan tentara bayaran untuk perang di Ukraina kembali mencuat ke permukaan. Sejumlah warga negara asing mengaku telah dijebak oleh seorang mantan guru yang beroperasi melalui platform Telegram untuk bergabung dalam militer Rusia dengan janji-janji palsu yang menggiurkan namun mematikan.
Para rekrutan ini mengungkapkan kepada BBC bahwa mereka awalnya diberikan informasi yang sangat menyesatkan mengenai peran mereka di Rusia. Wanita tersebut, yang diketahui merupakan seorang mantan guru, meyakinkan para calon tentara bahwa mereka tidak akan dikirim ke garis depan pertempuran atau terlibat langsung dalam konflik bersenjata yang membahayakan nyawa.
Modus operandi yang digunakan sangat rapi, yakni dengan memanfaatkan platform pesan instan Telegram untuk membangun narasi tentang pekerjaan non-kombatan yang aman dan bergaji tinggi. Namun, setelah tiba di lokasi tujuan, kenyataan pahit justru menanti para pria tersebut karena mereka langsung dipersiapkan secara militer untuk menghadapi peperangan yang brutal di zona konflik.
Beberapa korban yang berhasil memberikan keterangan menyatakan rasa kecewa dan ketakutan mereka yang mendalam. Mereka merasa terjebak dalam situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, di mana kontrak yang mereka tanda tangani ternyata memiliki klausul tersembunyi yang memaksa mereka untuk memegang senjata dan terjun ke medan tempur paling berbahaya.
Kasus ini menyoroti bagaimana media sosial dan aplikasi pesan pribadi kini menjadi alat yang ampuh bagi oknum tertentu untuk mengeksploitasi kerentanan ekonomi warga asing. Pihak berwenang dan berbagai organisasi internasional terus memperingatkan agar masyarakat tidak mudah tergiur dengan tawaran pekerjaan di zona konflik yang tampak tidak masuk akal.
Editor: SnanePapua
