Januari 13, 2026

Dulu Kritik Pemimpin Haus Kekuasaan, Presiden Uganda Yoweri Museveni Kini Incar Periode Ketujuh

SNANEPAPUA.COM – Presiden Uganda, Yoweri Museveni, yang kini telah menginjak usia 81 tahun, kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah menyatakan niatnya untuk maju kembali dalam pemilihan presiden mendatang. Langkah politik ini menandai upayanya untuk mengamankan masa jabatan ketujuh, sebuah keputusan yang memicu perdebatan sengit mengenai konsistensi dan masa depan demokrasi di negara tersebut.

Menariknya, pada masa awal karier politiknya, Museveni dikenal sebagai sosok reformis yang vokal mengkritik para pemimpin Afrika yang enggan melepaskan kursi kekuasaan. Ia pernah melontarkan pernyataan ikonik bahwa masalah utama di benua Afrika adalah para pemimpin yang terlalu lama menjabat. Namun, kenyataan saat ini menunjukkan hal yang sebaliknya, di mana ia telah berkuasa sejak tahun 1986 dan masih berambisi melanjutkan kepemimpinannya.

Dalam berbagai pidatonya, Museveni menegaskan bahwa dirinya adalah sosok yang berhasil membawa stabilitas dan pertumbuhan ekonomi bagi Uganda. Ia mengklaim bahwa kepemimpinannya sangat krusial untuk menjaga keamanan negara dari berbagai ancaman internal maupun eksternal. Bagi para pendukung setianya, Museveni dianggap sebagai figur ayah bangsa yang belum memiliki pengganti sepadan untuk menjaga persatuan nasional.

Namun, narasi stabilitas tersebut ditentang keras oleh kelompok oposisi dan aktivis hak asasi manusia. Para kritikus menuduh pemerintahan Museveni telah berubah menjadi rezim yang opresif. Mereka melaporkan adanya penindasan politik yang sistematis, pembungkaman suara kritis, hingga tindakan keras terhadap lawan politik yang mencoba menantang dominasinya dalam pemilu.

Situasi politik di Uganda kini berada di titik krusial seiring dengan persiapan menuju pemilihan berikutnya. Masyarakat internasional terus memantau perkembangan ini, mempertanyakan apakah proses demokrasi dapat berjalan adil di bawah bayang-bayang kekuasaan yang telah berlangsung selama hampir empat dekade tersebut. Masa jabatan ketujuh ini diprediksi akan semakin memperlebar jarak antara janji reformasi masa lalu dengan realitas politik saat ini.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua