SNANEPAPUA.COM – Situasi keamanan di Iran semakin memanas menyusul gelombang protes yang kini berujung pada kerusuhan berdarah di sejumlah wilayah. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan pernyataan tegas bahwa aksi demonstrasi tersebut telah disusupi dan sengaja dipicu oleh elemen asing yang bertujuan untuk mengacaukan stabilitas nasional negara tersebut.
Araghchi mengeklaim bahwa perubahan sifat aksi dari yang semula damai menjadi kekerasan ekstrem bukanlah sebuah kebetulan semata. Menurutnya, ada skenario besar yang disusun agar kerusuhan tersebut memberikan legitimasi atau alasan bagi pihak luar, terutama Presiden Amerika Serikat Donald Trump, untuk meningkatkan tekanan atau bahkan mencampuri urusan internal Iran secara lebih jauh.
Pemerintah Iran secara resmi telah menetapkan masa berkabung selama tiga hari sebagai bentuk penghormatan bagi para korban yang jatuh dalam gejolak tersebut. Meskipun demikian, otoritas keamanan di Teheran tetap dalam posisi siaga penuh guna meredam eskalasi massa yang dilaporkan masih terus meluas di beberapa kota besar, seiring dengan meningkatnya ketegangan di lapangan.
Tuduhan mengenai keterlibatan pihak asing ini bukan pertama kalinya dilontarkan oleh Teheran, namun kali ini retorika yang digunakan jauh lebih tajam. Araghchi menekankan bahwa kekerasan yang terjadi sengaja diciptakan untuk memicu pertumpahan darah, sehingga menciptakan narasi negatif di mata internasional yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh musuh-musuh politik Iran.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan di Iran dengan saksama, mengingat dampak geopolitik yang mungkin ditimbulkan di kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, retorika dari pihak Washington juga dikabarkan terus meningkat, yang membuat prospek perdamaian dalam waktu dekat menjadi tantangan besar bagi diplomasi global.
Editor: SnanePapua
