Januari 12, 2026

Tatanan Dunia Terancam? Analis Sebut Amerika Serikat Kini Jadi Pemicu Ketidakstabilan Global

SNANEPAPUA.COM – Situasi politik global kini tengah berada di titik krusial seiring dengan runtuhnya rezim Nicolas Maduro di Venezuela, yang memicu diskusi mendalam mengenai peran Amerika Serikat dalam stabilitas internasional. Banyak pihak mulai mempertanyakan apakah kebijakan luar negeri Washington saat ini justru menjadi bumerang bagi tatanan dunia yang mereka bangun sendiri selama berdekade-dekade.

Analis risiko terkemuka, Ian Bremmer, memberikan pandangan kritis terkait fenomena ini. Ia berpendapat bahwa Amerika Serikat, yang sebelumnya dikenal sebagai arsitek utama sistem global pasca-Perang Dunia II, kini justru terlihat sedang membongkar pondasi tersebut. Ketidakpastian ini menciptakan kekosongan kekuasaan yang bisa berujung pada kekacauan di berbagai belahan dunia.

Menurut Bremmer, pergeseran ini bukan sekadar perubahan kepemimpinan, melainkan refleksi dari perubahan prioritas domestik Amerika Serikat yang semakin mengarah pada kebijakan yang tidak terduga. Langkah-langkah yang diambil seringkali mengabaikan aliansi tradisional dan norma-norma internasional yang selama ini dijaga ketat oleh Gedung Putih, sehingga memicu keraguan dari negara-negara sekutu.

Dampak dari ketidakstabilan ini mulai terasa di berbagai kawasan strategis di seluruh dunia. Dengan melemahnya pengaruh pengawasan global dari Amerika Serikat, aktor-aktor regional lainnya mulai mencari celah untuk memperluas pengaruh mereka, yang seringkali memicu konflik baru atau memperburuk ketegangan yang sudah ada. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar akan masa depan perdamaian dan keamanan dunia.

Pada akhirnya, dunia kini menantikan apakah Amerika Serikat akan kembali pada perannya sebagai penjaga stabilitas atau justru terus menjadi motor penggerak ketidakpastian global melalui kebijakan-kebijakannya yang kontroversial. Masa depan sistem internasional sangat bergantung pada bagaimana negara-negara besar merespons perubahan drastis dalam arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat saat ini.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua