SNANEPAPUA.COM – Perdebatan mengenai siklus penyelenggaraan Piala Afrika atau Africa Cup of Nations (AFCON) kini kembali mencuat ke permukaan dan menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat sepak bola dunia. Munculnya wacana untuk mengubah jadwal turnamen bergengsi ini dari dua tahun sekali menjadi empat tahun sekali memicu berbagai reaksi, baik dari dalam maupun luar benua Afrika.
Samantha Johnson dalam analisis terbarunya menyoroti siapa sebenarnya pihak yang akan memetik keuntungan paling besar jika perubahan drastis ini benar-benar diimplementasikan. Selama puluhan tahun, tradisi penyelenggaraan dua tahunan telah menjadi identitas unik bagi sepak bola Afrika, namun tekanan dari klub-klub besar di Eropa serta padatnya kalender internasional mulai menggoyahkan tradisi yang sudah mengakar tersebut.
Salah satu argumen utama yang mendasari wacana perubahan ini adalah beban kerja pemain yang dinilai terlalu berat. Dengan siklus empat tahun sekali, para pemain bintang asal Afrika yang merumput di liga-liga top Eropa tidak perlu lagi meninggalkan klub mereka di tengah musim sesering biasanya. Hal ini diharapkan dapat mengurangi potensi konflik antara federasi nasional dengan klub-klub pemilik pemain yang sering merasa dirugikan saat turnamen berlangsung.
Namun, di sisi lain, banyak pihak yang menyuarakan kekhawatiran bahwa frekuensi turnamen yang lebih jarang akan menghambat percepatan pembangunan infrastruktur di negara-negara Afrika. Turnamen dua tahunan selama ini dianggap sebagai stimulus ekonomi dan penggerak utama dalam renovasi stadion serta fasilitas pendukung lainnya di negara tuan rumah, yang secara langsung berdampak pada kemajuan olahraga di tingkat lokal.
Hingga saat ini, otoritas sepak bola terkait masih terus melakukan pengkajian mendalam dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari nilai komersial hingga hak siar televisi. Keputusan akhir mengenai masa depan AFCON akan menjadi tonggak sejarah yang menentukan arah perkembangan sepak bola Afrika di panggung global. Perubahan ini bukan sekadar soal angka di kalender, melainkan tentang menjaga keseimbangan antara kepentingan bisnis global dan tradisi sepak bola kontinental.
Editor: SnanePapua
