SNANEPAPUA.COM – Kondisi krisis kesehatan di Jalur Gaza semakin mencapai titik nadir yang memprihatinkan setelah laporan terbaru menunjukkan lonjakan tajam angka kematian pasien kanker. Para tenaga medis melaporkan bahwa jumlah nyawa yang melayang akibat penyakit ini telah meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
Situasi ini dipicu oleh kebijakan otoritas Israel yang memperketat masuknya pasokan medis ke wilayah kantong tersebut. Para dokter di Gaza mengungkapkan kekecewaan mendalam mereka terhadap standar ganda yang diterapkan dalam pemeriksaan logistik di perbatasan. Mereka menyebutkan bahwa barang-barang konsumsi non-esensial justru lebih mudah mendapatkan akses masuk dibandingkan obat-obatan penyelamat nyawa.
Laporan dari lapangan menyoroti ironi yang menyakitkan bagi warga Palestina. Di saat bantuan berupa cokelat dan keripik diizinkan melewati blokade, obat-obatan kemoterapi yang sangat dibutuhkan untuk menghentikan penyebaran sel kanker justru tertahan di perbatasan. Hal ini menyebabkan ribuan pasien kehilangan kesempatan emas untuk mendapatkan perawatan medis yang tepat waktu.
Keputusasaan kini menyelimuti bangsal-bangsal rumah sakit yang masih bertahan di Gaza. Banyak pasien yang kini hanya bisa pasrah menghadapi kondisi kesehatan mereka yang terus memburuk tanpa adanya kepastian kapan obat-obatan akan tiba. Salah satu ungkapan pilu dari pasien menggambarkan betapa hancurnya mental mereka: “Kami hanya bisa duduk dan menangis,” merujuk pada ketidakberdayaan mereka menghadapi maut yang kian mendekat.
Blokade yang berkepanjangan ini tidak hanya menghambat akses pengobatan, tetapi juga meruntuhkan sistem kesehatan Gaza yang sudah sangat rapuh akibat konflik. Tanpa adanya intervensi internasional yang nyata dan segera, krisis ini dikhawatirkan akan terus merenggut nyawa warga sipil yang tidak berdosa, terutama mereka yang sangat bergantung pada perawatan medis berkelanjutan.
Editor: SnanePapua
