SNANEPAPUA.COM – Ketegangan di wilayah utara Aleppo, Suriah, kembali mencapai puncaknya setelah eskalasi pertempuran hebat pecah antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan militer pemerintah Suriah. Situasi yang kian mencekam ini memaksa ribuan warga sipil untuk meninggalkan rumah mereka demi mencari keselamatan dari garis depan pertempuran yang terus meluas ke area pemukiman penduduk.
Laporan terbaru di lapangan menunjukkan bahwa intensitas serangan meningkat secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Suara ledakan artileri dan baku tembak dilaporkan terdengar di berbagai lingkungan strategis, menciptakan kepanikan luar biasa di kalangan penduduk lokal yang terjebak di tengah persilangan senjata antara dua kekuatan militer besar tersebut.
Gelombang pengungsian massal ini menambah daftar panjang penderitaan kemanusiaan di wilayah Suriah yang belum kunjung usai. Warga sipil terlihat membawa barang-barang seadanya saat mereka melarikan diri, baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan yang penuh sesak. Banyak dari pengungsi tersebut adalah perempuan, anak-anak, dan lansia yang kini menghadapi ketidakpastian mengenai tempat bernaung dan akses terhadap kebutuhan dasar di kamp pengungsian darurat.
Aleppo Utara secara historis merupakan titik strategis yang diperebutkan oleh berbagai faksi dalam konflik Suriah yang telah berlangsung lama. Eskalasi terbaru antara SDF, yang didominasi oleh kekuatan Kurdi, dan tentara reguler Suriah menunjukkan adanya pergeseran dinamika geopolitik lokal yang dikhawatirkan dapat memicu ketidakstabilan lebih lanjut di kawasan tersebut jika tidak segera diredam.
Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai tanda-tanda gencatan senjata atau penurunan intensitas serangan dari kedua belah pihak yang bertikai. Komunitas internasional terus memantau situasi di lapangan dengan kekhawatiran mendalam akan potensi krisis kemanusiaan yang lebih luas di wilayah Aleppo. Evakuasi mandiri oleh warga masih terus berlangsung di tengah ancaman keamanan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Editor: SnanePapua
