Januari 10, 2026

Israel Memanas: Protes Berdarah Kaum Ultra-Ortodoks Menolak Wajib Militer Ancam Runtuhkan Koalisi Pemerintah

SNANEPAPUA.COM – Gelombang kemarahan kaum Yahudi Ultra-Ortodoks di Israel terkait kebijakan wajib militer kini telah mencapai titik kritis yang mematikan. Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di berbagai wilayah Israel tidak hanya melumpuhkan aktivitas publik, tetapi juga dilaporkan telah memakan korban jiwa di tengah bentrokan sengit antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan yang berusaha membubarkan massa.

Isu pendaftaran militer bagi komunitas ultra-Ortodoks telah lama menjadi perdebatan panas di tengah masyarakat Israel. Selama puluhan tahun, kelompok ini mendapatkan pengecualian khusus dari dinas militer agar dapat fokus pada studi agama di sekolah-sekolah Yeshiva. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan personel militer dan tekanan dari masyarakat umum, kebijakan ini mulai ditinjau ulang secara ketat oleh otoritas hukum tertinggi.

Ketegangan semakin memuncak setelah Mahkamah Agung Israel mengeluarkan putusan yang membatalkan pengecualian tersebut, yang mengharuskan pria dari komunitas ultra-Ortodoks untuk ikut memikul beban pertahanan nasional. Keputusan ini memicu reaksi keras dari para pemimpin agama yang menganggap wajib militer sebagai ancaman eksistensial terhadap pelestarian nilai-nilai religius dan gaya hidup tradisional mereka yang sudah berlangsung lama.

Dampak dari krisis ini tidak hanya dirasakan di jalanan, tetapi juga merembet hingga ke jantung kekuasaan di Yerusalem. Isu sensitif mengenai wajib militer ini kini mengancam stabilitas koalisi pemerintahan Israel yang sedang berkuasa. Perpecahan internal antara partai-partai sekuler dan partai-partai religius dalam kabinet diprediksi dapat meruntuhkan pemerintahan jika tidak ada solusi kompromi yang segera dicapai dalam waktu dekat.

Hingga saat ini, situasi keamanan di beberapa titik masih terpantau tegang dengan penjagaan ketat dari pihak kepolisian. Para pengamat politik memperingatkan bahwa eskalasi kekerasan ini bisa menjadi titik balik bagi politik dalam negeri Israel, yang kini berada di ambang ketidakpastian besar akibat benturan antara hukum negara dan tradisi keagamaan yang kuat.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua